Permainan AS-Israel Berhasil Membuat Kisruh Timur Tengah

113

Palanta Minang — Pemutusan hubungan diplomatik negara-negara yang tergabung dalam dewan kerjasama negara-negara teluk (GCC) terhadap Qatar tidak lepas dari kepentingan politik dan ekonomi negara-negara Adi-kuasa dan sekutunya. Dengan politik pecah belah terhadap negara-negara di kawasan Timur Tengah maka mereka memeperoleh dua keuntungan itu. Isu terorisme dan radikalisme disuntikkan oleh negara Amerika Serikat (AS), yang bekerjasama dengan Israel, guna memmicu konflik negara-negara kawasan teluk. Peran AS dalam menciptakan konflik dengan menanam orang-orang radikal, seperti Taliban, guna bisa berunding dan mendirikan kantor politiknya di Qatar. Sementara Israel memiliki peran untuk mengobok-obok negara teluk dengan menggali informasi, dengan mengirim wartawannya, lewat kunjungan khusus di negara yang menjadi target kerusuhan. Permainan AS-Israel benar-benar berhasil menciptakan kisruh dan kegoncangan di negara-negara Timur-Tengah.

AS-Israel dan Politik Adu Domba
Skenario AS, dalam memperkeruh dan menciptakan konflik antara Qatar dan negara-negara teluk, bisa dilihat dari pernyataan Mutlaq Al-Qaahlani, utusan khusus menteri luar negeri Qatar urusan kontra teroris, yang mengungkapkan bahwa negerinya menampung para pemimpin Taliban atas permintaan pemimpin AS. dan sebagai bagian dari kebijakan pintu terbuka dijalankan Qatar untuk memfasilitasi perundingan, mediasi, dan mewujudkan perdamaian. Qatar memfasilitasi pembicaraan antara AS, Taliban, dan pemerintah Afghanistan. Taliban membuka kantor politiknya di Qatar sejak 2013. Sementara peran Israel bisa dilihat dari adanya wartawan senior asal Israel, yang melakukan liputan langsung dari Qatar tentang kondisi terkini di negara yang tengah mengalami isolasi dari tetangga mereka. Enrique Zimmermann, wartawan Yediot Ahronof yang beberapa hari lalu kembali dari ibukota Doha. Ini merupakan kunjungan ke 8 Zimmermann menyatakan bahwa pernyataan pejabat senior Qatar bahwa Qatar dan Israel memiliki kepentingan sama sebagai negara mungil dikelilingi musuh dan rawan ancaman. (albalad.co.13/6/2017)

Dengan adanya dua fakta itu menunjukkan panasnya hubungan Qatar dengan negara-negara teluk. Sebagaimana diketahui bahwa beberapa negara arab (Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Mesir, Yaman, Libya) dan Maladewa, serta beberapa negara lainnya telah melakukan pemutusan hubungan diplomatik dengan negara Qatar. Mereka menuduh Qatar telah merusak kestabilan di Timur Tengah dengan memelihara kelompok terorisme dan radikalisme. Negara-negara di kawasan teluk itu menganggap bahwa Qatar mendukung milisi teroris, termasuk Ikhwanul Muslimin, ISIS, Houthi, dan Al-Qaeda. Atas pemutusan hubungan diplomatik itu, Qatar menganggap bahwa pemerintahannya telah menjadi korban yang terencana dan tidak dapat dibenarkan karena ada kepentingan dari pihak-pihak tertentu. Mereka menginginkan Qatar terisolasi dari dunia internasional karena sikapnya yang mendukung kelompok-kelompok radikal dan terorisme.

Kalau selama ini embrio gerakan terorisme dan radikalisme dialamatkan kepada Arab Saudi, maka saat ini bergeser ke Qatar. AS merupakan negara yang memainkan isu untuk menciptakan pergolakan negara yang menjadi sasaran. Dengan kata lain, terorisme dan radikalisme bukanlah lahir dari rahim Arab Saudi, tetapi hanya sebuah isu yang dimainkan AS guna menciptakan pergolakan di sebuah negara yang dijadikan target.

Peran Iran juga tidak kalah pentingnya khususnya untuk menyokong suatu negara, untuk melawan atau memberontak negara. Sokongan Iran dalam menyokong tersebarnya ajaran Syiah bisa dilihat dari gerakan-gerakan separatis yang melawan negara, seperti Houthi di Yaman, Hizbullah di Lebanon, dan di negara-negara teluk lainnya. Peran ideologi Iran yang disusupkan inilah yang menjadi salah satu faktor yang membuat terjadinya konflik antara Qatar dan negara-negara teluk.

Peran Iran dan Pertumbuhan Terorisme-Radikalisme

Konflik yang memanas di kawasan teluk itu tidak lepas dari politik adu domba yang disponsori AS dengan menyuntikkan satu isu yang ditanam di satu negara, sekaligus menanamkan opini bahwa isu itu harus diperangi karena membahayakan negara. Penanaman opini tentang bahaya terorisme dan radikalisme benar-benar berhasil, sehingga lahirlah perlawanan terhadap isu tadi. Arab Saudi yang menganggap bahwa Qatar mendukung keberadaan kelompok Ikhwanul Muslimin (IM) karena Qatar menampung ulama yang diusir dari negaranya karena terdeteksi sebagai kelompok IM. Bahkan Arab Saudi juga menganggap Qatar selalu mendukung kelompok-kelompok radikal dan teroris serta telah menjalin hubungan dengan pemerintah Iran. Hal ini semakin menguatkan bahwa Qatar sebagai sarang terorisme dan radikalisme. Sementara negara Bahrain mengambil sikap yang sama dengan Arab Saudi karena Qatar dianggap tidak berupaya membantu negaranya dalam menanggulangi masalah Syiah. Negara Mesir juga menolak keberadaan IM, tetapi Qatar justru mendukung keberadaannya. Sementara Yaman mengambil sikap memutuskan hubungan dengan Qatar karena adanya dukungan Qatar terhadap kelompok Houthi, sehingga ada indikasi menjalin hubungan dengan Iran.

Demikian pula Libya menganggap bahwa Qatar dinilai mendukung kelompok ekstrimis yang beroperasi di negaranya. Qatar menjadi sumber utama pemasok senjata ke kelompok IM dan kelompok bersenjata lainnya. Maladewa memandang bahwa Qatar sebagai negara yang mendukung kegiatan terorisme dan ekstremisme.

Isu terorisme dan radikalisme benar-benar menjadi akar persoalan, sehingga menimbulkan gejolak antar negara-negara teluk. Hal ini bisa dilihat dari butir-butir yang diajukan negara-negara Teluk bila Qatar ingin memulihkan atau menormalisasi hubungan diplomatik yang telah terputus. Salah satu butir, di antara sepuluh but ir, yang harus di lakukan Qatar adalah melepaskan hubungan dengan Iran dan tidak melindungi pelaku terorisme dan radikalisme. Diakui atau tidak bahwa Iran dan terorisme-radikalisme seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Dengan kata lain, Iran memang sebagai biang konflik di Timur Tengah, karena dialah akar dari semua persoalan di antara negara-negara Arab.
Surabaya, 15 Juni 2017

*Dr. Slamet Muliono

*)Penulis adalah dosen di UIN Sunan Ampel dan STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

Sumber: fokusislam.com

Comments

comments

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY