43 Persen Perkawinan Berada di Bawah Usia

204

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA — Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menerima kunjungan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yambise. Dalam kesempatan itu, keduanya membahas masalah batas usia pernikahan.

Disebutkan dalam Bab 2 pasal 7 ayat 1 UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang mengatur bahwa perkawinan hanya diijinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun.

Menteri Yohana mengatakan, bahwa pihaknya sedang mengupayakan agar usia minimal pernikahan bisa dinaikkan menjadi 18 tahun. Yohana yang didampingi Deputi Bidang Perlindungan Anak Pribudiarta Nur Sitepu dan Deputi Tumbuh Kembang Anak Lenny Rosalin berharap, Kementerian Agama sebagai lembaga yang mengurus mengenai pernikahan dapat ikut serta dalam upaya menaikkan batas minimal usia pernikahan.

Menurutnya, isu perkawinan anak merupakan isu besar. Data yang ada menunjukan,43 persen dari total perkawinan berada pada usia di bawah 18 tahun. Menteri Yohana mengaku, upayamenaikkan batas usia menikah pernah diajukan ke Mahkamah Konstitusi (MK) untuk dilakukan judicial review, tetapi ditolak.

Menanggapi hal ini, Menag Lukman menjelaskan kalau Kementerian Agama juga banyak menerima masukan agar batas usia menikah ditingkatkan, khususnya bagi perempuan.Menag bahkan mengaku pernah menanyakan alasan penolakan judicial review kepada hakim MK.

Para hakim MK, lanjut Lukman, berpandangan bahwa penetapan batasan usia minimal untuk menikah merupakan kewenangan pembuat undang-undang, yakni DPR dan pemerintah. Sehingga akan lebih baik jika upaya ini ditempuh melalui legislatif review bukan judicial review.

Lukman lalu memberikan dua pilihan, yakni upaya melalui DPR atau pemerintah. Upaya menaikkan batas usia minimal menikah dapat ditempuh melaluiRevisi UU No. 1 Tahun 1974 atau Perpu.

Terhadap pilihan ini, Lukman menyarankan, agar menempuh upaya revisi UU ketimbang Perpu. Menurutnya, beberapa organisasi kemasyarakatan saat ini juga telah giat mengupayakan revisi UU tersebut.

Namun demikian, Menag juga mengingatkan, pandangan beberapa pihak yang mengatakan, semakin tinggi batas usia minimal menikah, dapat mengakibatkan semakin membuka peluang pergaulan bebas di kalangan remaja.

“Batas dewasa bagi seseorang itu dinamis. Saat ini, usia 18 tahun dipandang sebagai usia yang cukup untuk menikah, tetapi sepuluh atau dua puluh tahun lagi, kita tidak tahu apakah masih cukup relevan,” ujar Menag. [republika]

Comments

comments

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY